August 25, 2011

Selimut Anggunmu Membuyarkanku

Malam melahap lelap. Makin aku larut dalam pesona samar ruang remang. Kerlap tersebar tanpa menjadi gemerlap, sekedar cukup karena enggan membuyar pandangan. Meski sulit melihat dengan jelas, terlalu indah apa yang kutahu ada di sana. Pandanganku memiliki fitur autofocus, dan diafragma telah kuatur serendah mungkin. Shutter-ku bergerak cepat, mengirim momen luar biasa ini menuju keabadian. Berselimut dalam anggunnya, ia sesungguhnya menyimpan gundah. Aku tahu betul sorot mata itu. Pernah kulihat sebelumnya di cermin rumahku. Luar biasa inginku menyapa dan menampung sebagian gundahnya, namun khawatir dahsyat melanda. Bagaimana jika ia memegang teguh prinsip tidak berbicara dengan orang asing? Kalaupun tidak, apa dia akan berhenti datang ke sini karena tak mau bertemu dengan makhluk macam diriku? Ataukah, dia akan tetap datang berselimut anggun dan menganggap aku tiada; yang berarti benar-benar meniadakanku. Ah, sulit memang menghadapi seorang... seorang.. Bahkan aku tak tahu namanya. Benar-benar aku dimabuk olehnya.

---

Bukan aku lupa. Aku hanya malas memandang, apalagi menyapa. Sejak dulu posisiku sebagai sang penunggu, dan tak akan pernah berubah. Meski kutahu kau tak ingat. Tampilanku memang berubah, namun apa yang di dalam tidak. Sungguh ingin aku berbisik lima senti di samping wajahmu, cukup berkata, "aku Kiana."

July 27, 2011

Hangat itu.. Awalnya Dingin.

Hujan sore ini tidak biasa. Ada getir yang ikut tumpah di dalamnya. Getir yang turut dirasakan Kiana.
"Ki, pulang yuk. Nanti kemaleman,"
Kiana bergeming.
"Ki, ayo," gadis itu menggamit lengan Kiana, berusaha menarik Kiana yang bertubuh sedikit lebih besar. Kiana masih bergeming. Kekuatan gadis itu tidak cukup untuk menggerakkannya.
"Kiana," suara yang jauh lebih berat dari suara gadis mungil itu memanggil. Kiana tetap diam, namun kakinya mulai melangkah mundur. Perlahan, Kiana keluar dari kerumunan orang yang berpakaian serba hitam. Mereka bertiga berjalan menuju sedan putih pria bersuara berat tadi. Tak lama, deru sedan tersebut membaur dalam gemericik hujan, yang masih setia membasahi bumi tempat tiga manusia itu memijak.



"Kalau kamu butuh apa-apa, bisa hubungi saya," ujar pria bersuara berat. Kiana hanya tersenyum kecil. Tidak, ia tidak butuh apa-apa selain sendiri, berbaring nyaman di kamarnya yang hangat. Mobil itu melaju pergi, meninggalkan Kiana yang masih mematung di depan pagar berwarna coklat mengilap. Matanya menerawang jauh, sesekali mengedip ketika kilatan petir menyambar. Dengan pandangan yang masih kosong ia membuka pagar, menutupnya kembali, dan berjalan memasuki rumah besar yang sama kosongnya. Sekosong mata dan pikiran Kiana.

---

Kilau mentari pagi menerobos tanpa ampun melalui kisi jendela kamar Kiana, menyinari wajah Kiana yang masih terpejam. Kiana tidak pernah memasang alarm. Ia akan refleks membuka mata setiap pukul empat tiga puluh pagi. Namun hari ini berbeda. Kiana tidak membuka matanya, meski ia telah bangun sejak satu setengah jam yang lalu. Sadar akan matahari yang telah meninggi, Kiana membuka matanya perlahan. Ia menghela nafas, dan air mata jatuh dari pelupuknya. Sarung bantal biru muda itu kembali harus menyerap cairan hangat dari pemiliknya, cairan hangat yang sesungguhnya mengandung dingin yang amat sangat, kebekuan yang dipendam sekian lama dan memang harus jatuh kini. Kiana membuka mulutnya. Samar terdengar gumamnya, "Ibu.."

July 24, 2011

ka ngen es em a

Sekangen itu loh sama orang-orang. Butuh sekolah, butuh temen-temen, butuh ngobrol secara langsung. Kangen koridor, kangen kantin, kangen depan gamelan, kangen hall, kangen ruang musik, kangen masjid lantai berapapun, kangen green house. Kangen Labschool Kebayoran. Banget.

SEKANGEN ITU LOH SAMA KARTU, SAMA BINGO, SAMA POJOKAN, SAMA COLOKAN, SAMA BAWAH PAPAN TULIS, SAMA MEJA GURU, SAMA MYANA, SAMA MELON, SAMA TANEMAN2 LAEN, SAMA JUS ALPUKET, SAMA NASI GORENG DEPAN, ES BUAH SEMANGKOK BERENAM, MI REBUS DUA MANGKOK BERTIGA.

Maaf labil malam hari.

July 10, 2011

Let Me Explain That...

Maybe I have DID (Dissociative Identity Disorder) or something like that but i have two blogs that.... don't know how to tell but well lemme start.

oh if you're too lazy to read, just click this link: http://deepestroot.posterous.com

I made this blog when I was in junior high school and i've been writing many things, most of them are unimportant things for you, readers. They were (and are) important for me, that's why i never delete posts, drafts, my personal writing in pc, laptop, mobile phone, anything, because i keep mementos. I love to remembering old times, wondering if i were back to the past would i do the same thing, and what i don't want to remember but with no reason i still remember. Despite all of these melancholic hobby, i also love to do something new, travel to new places, and meet new people. Maybe i'm not an extrovert or "everybody's friend", but i can say that i'm okay in adapting with new situation. I'm not afraid of new things. Of course i often feel worried about what will happen, would it be nice or terrible, but it's normal to have this kind of feeling. Anxious feeling, as long as it's not too much is normal.

Back to main topic. So last year i found new bloggie world called Posterous. It looks clean and easy-to-post so i made one and i like it. I leave it as simple as this blog; no background, no banner. I often write there, and one day i remember about my blogger and the idea of merging these blogs popped in my head. I almost move all my posts there to this blog but my other side said "no!" and i didn't. So, there it is. Two blogs. Different link. Different content. Same person. Gah.

Why i keep it separated? Because because. I have this psychological (or maybe biological) instinct (?) to choose where to post. I mean, even if it only ends up as draft, i know where to write! Like, i naturally grouping my mind into two separated media, Posterous and Blogspot. It feels like I have two sides but it still me. No different. See my Posterous and tell me what's the different. I have no clue of myself..... help!!

Oh, maybe some posts in Posterous were made with confusion, lonely feeling, or say it in Indonesian most popular words: galau. Well, just read and judge by yourself. Like I said before, I don't even know how I choose where to write. Uh-oh I don't want to be Dr. Jekyll & Mr. Hyde, though i like some songs from its musical. Out of topic. kthxbye.

Visit my Posterous and see my double-life *Oh i got parallel world, oooooh*

June 16, 2011

GUE MAU NULIS APA WAKTU ITU YA. UDAH DI UJUNG JARI TAPI GA SEMPET DAN GA ADA MEDIA YANG OKE. SEKARANG LUPA MAU NULIS APA. EMOSI TINGKAT DEWA!!!!!!!!!!!!!!!!!

maaf ya. tapi beneran deh kesel. waktu itu udah mau nulis tapi ga sempet dan sekarang lupa, nyesek banget TT________TT